Suatu
malam, di sebuah stasiun radio, sedang berlangsung acara dimana orang- orang
berbagi pengalaman hidup mereka. Perhatian saya yang semula tercurah pada tugas
statistik beralih ketika seorang wanita bercerita tentang ayahnya. Wanita ini
adalah anak tunggal dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di pinggiran kota
Jakarta. Sejak kecil ia sering dimarahi oleh ayahnya. Di mata sang ayah, tak
satupun yang dikerjakan olehnya benar.
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Kamis, 14 Maret 2013
Jumat, 15 Februari 2013
Kasih Dari Sang Pengasih
Kemana
truk Papa yang dulu berjumlah hampir dua puluh itu? Sederhana saja: dijual
satu persatu. Mengapa? Untuk apa?
Ketika
usahanya berhasil, Papa tak pernah berpaling sedikitpun dari teman-temannya.
Maka ketika hari berlalu dan satu persatu teman Papa muncul di rumah kami
dengan wajah keruh dan pias, satu demi
satu truk dari usaha transportasi Papa pun digadaikan. Hasil penggadaian itu dipinjamkan Papa pada mereka untuk
membuka usaha yang lebih menjanjikan.
Jogya 'N Los Angeles
"Kita
harus mengakhirinya Ko, tak ada ikatan apapun dalam Islam antara seorang laki-laki
dan wanita kecuali khitbah dan pernikahan, ini nggak benar Ko". Riko mendesis
mengingat kata-kata Ayu sore tadi, ada sesuatu menyayat ulu hatinya, perih. Dan
ia tak habis mengerti perubahan jalan pikiran Ayu akhir-akhir ini.
Kamis, 14 Februari 2013
Dari Pernikahan Sugiarto dan Kusminah
Cacat
tubuh bukan akhir dari segala-galanya. Bagaimanapun hidup harus terus berjalan.
Itulah yang dialami Sugiarto. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki ia tetap
berusaha mencari nafkah, mencari ilmu dan menikah.
Sabtu,
10 Agustus 2002. Pagi sekitar pukul 09.00, suasana di kediaman pimpinan Pondok
Pesantren Daarut Tauhid, KH Abdullah Gymnastiar, yang akrab disapa Aa Gym,
tampak ramai dan meriah. Sekitar 200 orang undangan hadir untuk mengikuti upacara
pernikahan Sugiarto (40), biasa disapa Ato, dengan Kusminah (26). Keceriaan
tampak pada wajah para undangan dan kedua mempelai sambil mendengarkan
ceramah dari Aa Gym sebelum pelaksanaan ijab kabul.
Catatan Buya
Medan,
15 Juni 1975
Hari
ini engkau terlahir ke dunia, anakku. Meski tidak seperti harapanku bertahun-tahun
merindukan kehadiran seorang anak laki-laki, aku tetap bersyukur engkau lahir
dengan selamat setelah melalui jalan divakum. Telah kupersiapkan sebuah nama
untukmu; Qaulan Syadida..Aku sangat
terkesan dengan janji Allah dalam surat Al-Ahzab ayat tujuh puluh,
maknanya perkataan yang benar. Harapanku engkau kelak menjadi seorang yang kaya
iman dan memperoleh fauzan'adzima, kemenangan yang besar seperti
yang engkau telah dijanjikan Allah dalam Al-Quran. Sungguh
kelahiranmu telah mengajarkanku
makna bersyukur...
Selasa, 01 Januari 2013
Bersahabat Selamanya
Sewaktu masih kanak-kanak, setiap selesai shalat shubuh berjamaah di masjid,
aku dan saudara-saudaraku sering melakukan jalan- jalan pagi. Hanya di waktu
pagilah udara di kota Jakarta masih bisa dikatakan bersih, karena belum banyak
kendaraan yang lalu lalang, dan matahari bahkan belum memperlihatkan
cahayanya
serta debu-debupun belum banyak beterbangan. Di sebuah kantor polisi kecamatan
kecil yang berada di tikungan perempatan patung Pancoran, aku selalu memperlambat
langkahku karena daerah itu adalah daerah yang aku sukai.
Senin, 31 Desember 2012
Bayang-Bayang Kematian Membuatku Masuk Islam
Suatu
malam yang sunyi, seorang kakek berjanggut putih, berbusana gamis, tertatih-tatih
menghampiriku. Aku terkejut, seraya bertanya-tanya dalam hati, siapa lelaki tua
itu? Entah dari mana asalnya. Makin mendekat, kurasakan getaran dalam tubuhku.
Jantungku berdebar, bulu kudukku berdiri. Namun, aku hanya diam terpaku.
Allah Lebih Tahu Yang Terbaik Buat Kita
Sore itu kulihat suamiku mondar mandir keluar masuk ruangan dengan wajah
murung. Aku tahu sebabnya, dia tidak diterima dalam seleksi masuk S-2 di sebuah
lembaga pendidikan yang dia inginkan, walaupun hasil test dia terbaik dari
hasil tes peserta yang lain, dengan alasan suamiku telah diterima di lembaga
lain yang masih ada dalam satu naungan.
Minggu, 30 Desember 2012
Aku Mencintai Karena Allah
"Aku
mencintai karena Allah". Hmm.. siapapun tentu berdesir mendengar kalimat
yang satu ini. Ada perasaan haru yang membuncah di dada juga ketulusan yang
terpancar membaca rangkaian kalimat sederhana tersebut. Dan inilah yang
dirasakan oleh seorang sahabatku.
"Dia
ingin mengajakku menikah demi memenuhi panggilan dakwah mbak." Aku tersenyum,
ikut bahagia dan haru tentu saja.
Adik Kita....
Garut,
Kompas - Seorang siswa sekolah dasar menggantung diri karena tak mampu membayar
biaya kegiatan ekstrakurikuler sebesar Rp 2.500. Anak malang ini sampai Sabtu
malam kemarin masih terbaring tidak sadarkan diri di ruang ICU Rumah Sakit
Dokter Slamet, Garut, Jawa Barat.
Ada Apa Dibalik Sakitku?
Jodoh,
Rizki, Maut datangnya tak pernah kita sangka-sangka. Kalau Allah menghendaki
cepat atau lambat semuanya pasti datang. Demikian pula dengan jodoh yang sedang
kita ihtiarkan bersama baik lewat KJI maupun lewat biro jodoh-biro jodoh yang
lain, semua itu hanya sarana, apakah Allah memberi jodoh lewat jalan itu atau
tidak itu hak mutlak Allah. Jalan Allah untuk mempertemukan jodoh kita begitu
luasnya hingga tak terbatas. Untuk itu teman-teman jangan putus asa, dan jangan
berburuk sangka, hidupkan terus KJI, terus ihtiar dan jangan lupa berdo'a.
Sabtu, 29 Desember 2012
Ya Allah Ridhailah Hamba..
Ya
Allah, Ridhailah hamba..
"Ya
Allah.. ridhailah hamba .", kata-kata itu yang selalu terucap saat aku melihatnya.
Acara
TV itu selalu kutunggu setiap tahun, acara siaran langsung dari Mekkah. Gambar
dan suara di TV itu telah mengirimkan sinyal ke otak, dan membuat hati berdebar
serta menstimulasi butir-butir air mata yang membasahi pipiku. Labbaikallahumma
labbaik, beriring seluruh jama'ah haji menyambut penggilan Allah.
Terlihat jelas dari layar gelas itu, mereka bertawaf mengitari rumah-Mu Ya
Tuhan, mereka duduk tafakur memanjatkan do'a di padang Arafah, mereka
berlari-lari kecil dari Shofa dan Marwah, dan melempar kerikil kecil yang
bermakna besar-untuk menghalau iblis jahannam. Aku terhanyut seakan jiwaku
bersama mereka.
Untuk Apakah Kita Hidup?
Untuk apakah kita hidup?
Tanyakanlah
ini kepada Mak Paenah yang tiap hari berjualan pecel di depan Gedung DPRD
Sumatera Utara (Sumut) di Medan. Dalam usianya yang-menurut pengakuannya-86 tahun,
Mak Paenah masih setia mendorong-dorong kereta
pecelnya demi mengumpulkan rupiah selembar demi selembar dari Rp 1.500
per pincuk (piring dari daun pisang) pecel jualannya itu. Gerobaknya cukup
berat dengan dua roda becak yang sering kempis anginnya. Sebuah topi bambu lebar
menemani tubuh ringkihnya menempuh jarak sekitar lima kilometer dari rumah
cucunya di kawasan Glugur ke Gedung DPRD Sumut di Jalan Imam Bonjol melewati
jalanan aspal yang terik dan ramai.
Taman di Pelupuk Matanya
Kutatap
adik laki-lakiku Eri dengan kepiluan yang mengalir ke seluruh nadi darahku. Wajahnya semakin tirus, kurus
tubuhnya menampakkan tulang yang tinggal
berbalut kulit. Leukimia telah menggerogoti kegagahannya. Tapi bagiku dia masih
tetap gagah. Masih tetap perkasa sekaligus lembut, setiap kuingat betapa SABAR
ia mengajar baca tulis Al Quran pada sesama teman mahasiswanya, betapa SANTUN
ia membimbing ibu-ibu pengusaha tempe ?plenyet? yang sama sekali buta bisnis
untuk memahami lika-liku bisnis, betapa manis ia dengan SUKARELA dan IKHLAS MEMBANTU
dan MENDAHULUKAN KEPENTINGAN KAWAN-KAWANNYA.
Sabtu, 22 Desember 2012
Senyumnya di siang hari..
Aku
melihatinya semenjak duduk ditangga ini, dalam hiruk pikuk pasar PST,Tebet.
Raut
wajahnya keriput dan hitam legam kulitnya terbakar matahari. Senyum selalu terlihat
diwajahnya, dan senyum inilah yg membuatku selalu memperhatikannya.
Beberapa
saat kemudian aku panggil dia. Berniat tuk mengenal dia lebih dalam sambil menunggu seseorang yg sedang berbelanja dipasar.
Berharap aku dapat mengetahui rahasia senyumnya di siang hari bolong ini.
Saya Ridho.......
"Assalamu'alaikum...," bisik
Muhsin mengakhiri rakaat
terakhirnya.
Dibelakangnya
Hasanah mengucap lafaz yang sama. Sholat jamaah usai. Seperti biasanya, sejak
ia dinikahi Muhsin, Hasanah meraih tangan suaminya, disalami dan diciumnya.
Selasa, 30 Oktober 2012
Ada Apa di Balik Sakitku??
Jodoh, Rizki, Maut datangnya tak pernah kita
sangka-sangka. Kalau Allah menghendaki
cepat atau lambat semuanya pasti datang. Demikian pula dengan jodoh yang sedang
kita ihtiarkan bersama baik lewat KJI maupun lewat biro jodoh-biro jodoh yang
lain, semua itu hanya sarana, apakah Allah memberi jodoh lewat jalan itu atau
tidak itu hak mutlak Allah. Jalan Allah untuk mempertemukan jodoh kita
begitu luasnya hingga tak terbatas. Untuk itu teman-teman
jangan putus asa, dan
jangan berburuk sangka, hidupkan terus KJI, terus ihtiar
dan jangan lupa berdo'a.
Dalam kesempatan ini ijinkanlah saya berbagi cerita,
bagaimana Allah memberikan
jalan untuk menpertemukan jodoh saya, mudah-mudahan bisa di ambil hikmahnya bahwa
tak semua musibah itu berakibat buruk.
Kamis, 25 Oktober 2012
Rijo, Terima Kasih Telah Mengajarkan Kerja Keras
Pagi ini saya ketemu temen kecil sepermain yangg sudah
lama sekali tidak bertemu (mungkin lebih dari 2 tahunan semenjak dia menikah). Rijo,
namanya. Seperti biasa dan telah menjadi kebiasaan saya. Setiap keluar dari
pintu pagar rumah, selalu membaca Al-Fatihah, Al-Iklas, An-Naas, dan Ayat Kursi
sambil menikmati hangat dan segarnya pagi hari. Saat Rijo tersenyum,konsentrasi
saya pecah dan berpikir siapakah pria yang ramah dan berwajah cerah ini.
Saat kami berjarak 3 meter-an, barulah saya ingat dia dan
saya hentikan bacaan surat saya sambil melemparkan senyum. Masya Allah, sebelum
kata terucap saya sudah merasakan kehangatan persahabatan dari dia. Kami
tersenyum dan berjabat tangan erat sambil nempuk pundak masing-masing.Dan mulai
mengalirlah suatu percakapan untuk bertukar kabar.
Kamis, 16 Agustus 2012
Khusyu' itu Mudah
Selama ini, kita selalu berpendapat bahwa khusyu’ itu
sangat sulit dicapai. Ketika shalat, pikiran sering pergi kemana-mana. Karena
itu, lalu muncullah cara mengatasinya yaitu dengan konsentrasi. Konsentrasi
pikiran seolah-olah telah menjadi kunci mencapai khusyu’. Maka tidak
mengherankan jika pelajaran shalat khusyu' pada umumnya ditujukan untuk
membantu mengarahkan konsentrasi pikiran, seperti misalnya melihat titik di
tempat sujud, menerjemahkan bacaan, menghadirkan Allah, dan lain-lain.
Cara-cara tersebut terlihat meyakinkan, tetapi
kenyataannya tidak memberi terlalu banyak manfaat. Melihat tempat sujud
membantu agar pandangan kita tidak melirik kekiri dan kanan, tetapi tidak mampu
menahan pikiran kita yang suka melompat ke kiri dan kanan.
Hubungan Muda-Mudi Sebelum Menikah dalam Tinjauan Syariat
Langganan:
Postingan (Atom)

